Implementasi Cara Gerwani dalam memberantas buta huruf dilakukan dengan mendirikan ribuan kursus pengetahuan dasar di tingkat desa. Mereka tidak menunggu bantuan pemerintah, melainkan mengerahkan anggotanya untuk menjadi guru sukarela bagi para ibu rumah tangga. Metode pengajaran yang digunakan sangat praktis, yakni menghubungkan kemampuan membaca dengan aktivitas ekonomi sehari-hari.
Pendekatan ini terbukti efektif karena Cara Gerwani mengintegrasikan materi literasi dengan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan pola asuh anak. Para ibu diajarkan membaca agar mereka bisa memahami petunjuk medis dan informasi gizi yang penting bagi keluarga. Dengan demikian, literasi bukan lagi sekadar merangkai huruf, melainkan alat untuk meningkatkan kualitas hidup.
Selain literasi dasar, Cara Gerwani juga memperkenalkan kesadaran politik dan hukum kepada kaum perempuan di akar rumput. Mereka diajak untuk memahami hak-hak mereka dalam pernikahan dan kepemilikan harta benda menurut undang-undang. Pendidikan ini memberikan rasa percaya diri baru bagi ibu rumah tangga untuk terlibat aktif dalam diskusi sosial di lingkungan.
Keberhasilan program ini terlihat dari antusiasme perempuan desa yang berbondong-bondong menghadiri kelas malam setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Melalui Cara Gerwani, pendidikan menjadi jembatan bagi perempuan untuk keluar dari isolasi domestik yang selama ini membelenggu mereka. Organisasi ini berhasil menciptakan ruang aman bagi perempuan untuk saling belajar dan berbagi pengalaman hidup.
Pemerintah pada masa itu mengakui kontribusi besar organisasi perempuan ini dalam mendukung program nasional pemberantasan buta huruf. Kolaborasi antara aktivis kota dan perempuan desa menciptakan solidaritas lintas kelas yang sangat kuat di bawah payung perjuangan gender. Gerwani membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan harus dimulai dari penguasaan literasi sebagai fondasi utama kesadaran.
Namun, dinamika politik yang memanas di pertengahan dekade 1960-an membawa tantangan besar bagi keberlangsungan program pendidikan ini. Banyak fasilitas belajar yang terpaksa ditutup akibat perubahan konjungtur politik nasional yang sangat drastis dan represif. Meskipun begitu, rekam jejak perjuangan literasi mereka tetap menjadi studi kasus penting dalam sejarah pergerakan perempuan Indonesia.